Rebut Jenazah Covid-19 dan Aniaya Petugas
Kasus Warga Rebut Jenazah Covid-19 dan Aniaya Petugas di Jember Berakhir Damai

Minggu, 25 Juli 2021 - 06:11:00 WIB


Wartariau.com - Insiden warga desa yang merebut jenazah pasien Covid-19 dan menganiaya petugas di Jember, Jawa Timur, berakhir damai. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (17/7) malam lalu, di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari.
Warga yang dimediasi perangkat desa dan kecamatan, langsung menyampaikan permohonan maaf kepada BPBD Jember.
"Alhamdulillah mereka sudah menyampaikan permohonan maaf kepada kami, melalui mediasi oleh bu kades dan jajaran Muspika," tutur Plt Kepala BPBD Jember, Moh Djamil saat dikonfirmasi pada Sabtu (24/07) malam.
Menanggapi permohonan maaf itu, BPBD Jember dengan lapang dada memilih untuk memaafkan warga. BPBD Jember memahami kondisi psikologis warga yang belum sepenuhnya memahami Covid-19.
"Kita, teman-teman BPBD Jember memaafkan mereka. Warga sudah menyadari bahwa peristiwa kemarin tidak seharusnya terjadi. Kita juga memahami situasi warga sehingga kita menerima (permohonan maaf)," jelas Djamil.
Insiden warga yang merebut jenazah pasien Covid-19, melempari mobil BPBD dengan batu dan bahkan sampai menganiaya petugas, diduga bukan dilakukan oleh keluarga almarhumah.
Sebab, sejak awal keluarga sudah sepakat untuk pemakaman almarhumah Anik, warga Desa Jatian, dilakukan dengan protokol Covid-19.
"Bahkan pihak keluarga juga terlibat secara langsung (dalam pemulasaraan jenazah dan pemakaman dengan protokol Covid-19)," tegas Djamil.
Atas peristiwa tersebut, BPBD Jember berharap tidak terulang kembali dan warga memahami kondisi Covid-19 yang mengharuskan penegakan protokol kesehatan.
"Kita mehami psikologis mereka yang ditinggalkan. Tetapi kami hanya menjalankan tugas untuk memutus mata rantai Covid-19. Kami memang sering mendapat penolakan dari warga, tetapi memang yang di Jatian kemarin itu cukup parah. Semoga ini tidak terulang lagi," tutur Djamil.
Dengan permintaan maaf tersebut, warga yang melakukan aksi anarkis kemungkinan akan terbebas dari ancaman proses hukum. Pada saat kejadian, Kapolsek Pakusari beserta jajarannya sebenarnya juga sudah berada di lokasi, namun tidak berhasil menenangkan warga.
"Dengan permintaan maaf ini, kami sudah sampaikan kepada semua pihak, termasuk polisi. Bahwa di antara kami (BPBD dan warga) sudah tidak ada permasalahan lagi," jelas Djamil.
Keluarga Kaget Ulah Warga
Hal senada juga disampaikan oleh keluarga almarhumah Anik. Menurut Mohammad Ersan, suami Anik, pihaknya sejak awal sudah sepakat bahwa jenazah istrinya akan menjalani pemulasaraan dan pemakaman sesuai protokol Covid-19. Karenanya, ia menyesalkan ada warga yang menentang prosedur pemakaman sesuai protokol yang akan dilakukan oleh tim dari BPBD Jember.
"Kita sekeluarga sudah bersedia dan tidak keberatan dengan protokol pemakaman. Makanya saya heran, sangat terkejut dan menyayangkan insiden kemarin," ujar Ersan.
Atas peristiwa tersebut, Ersan menyampaikan permintaan maaf kepada BPBD Jember. "Beribu-ribu maaf saya haturkan khususnya kepada petugas BPBD Jember yang melakukan proses pemakaman. Juga kepada perangkat desa, dan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Pakusari. Kami sama sekali tidak menduga itu bisa terjadi," sesal Erfan.
Istri Erfan, yakni almarhumah Anik, sebelumnya dirawat dan kemudian meninggal di RSD dr Soebandi Jember, dengan status terkonfirmasi positif Covid-19.
BPBD Jember juga tidak bisa memastikan, apakah warga yang merebut jenazah itu akan terpapar Covid-19. Karena belum dilakukan tracing terhadap warga yang merebut peti jenazah.
"Ya kalau secara protokol, jika peti jenazah sampai di buka, itu rawan dan menyalahi prosedur," jelas Djamil.
Jenazah almarhumah Anik sebenarnya sudah dimandikan di rumah sakit, oleh petugas khusus yang telah mendapat pelatihan. Prosedur pemulasaraan jenazah itu juga sudah dipastikan sesuai syariat Islam dengan mengacu pada Fatwa MUI terkait jenazah pasien positif Covid-19.
Insiden pemakaman yang terjadi di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari itu, menimpa satu tim BPBD Jember yang terdiri dari 9 orang. Mereka terdiri dari petugas organik BPBD yang dibantu oleh relawan. Dua orang petugas terkena lemparan batu oleh warga, satu relawan, yakni Nawawi yang merupakan aktivis Pramuka, ditarik oleh warga hingga terjatuh ke tanah.




Berita Terkait :