Wartariau.com C" />
Disusul India-Jepang-Jerman Dan Inggris

2028: China Geser AS Jadi Nomor Satu Kekuatan Ekonomi Terbesar Dunia, Disusul India-Jepang-Jerman Da

Wartariau.com China akan mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara ekonomi terbesar dunia. Sebuah lembaga pemikir AS mengatakan dalam sebuah laporan terbarunya, bahwa China akan menjadi ekonomi terbesar di dunia pada 2028, lima tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya, merujuk pada  pemulihan yang kontras di kedua negara dari pandemi Covid-19.

Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis (CEBR) dalam laporan tahunan yang diterbitkan pada hari Sabtu (26/12), mengatakan untuk beberapa waktu tema umum ekonomi global telah menjadi diskusi. Penanganan pandemi menjadi salah satu penyebab melemahnya ekonomi AS, sementara China yang telah lebih dulu bangkit dari kerusakan pandemi akan melesat dengan kekuatannya.

“Pandemi Covid-19 dan kejatuhan ekonomi yang terkait tentu saja membuat persaingan ini menguntungkan China,” isi dari pernyataan penelitian itu, yang dikutip dari Reuters.

Sementara, BBC melaporkan, CEBR yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa China telah melakukan pengelolaan Covid-19 yang cekatan, membuat peningkatkan pertumbuhan ekonomi merangkak cepat dibandingkan dengan AS dan Eropa di tahun-tahun mendatang.

China tampaknya menetapkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,7 persen setahun dari 2021 hingga 2025 sebelum melambat menjadi 4,5 persen setahun dari 2026 hingga 2030.

Dalam laporan itu juga disebutkan Jepang akan tetap menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia sampai awal 2030-an, dan akan digeser posisinya dengan India. Jerman akan turun dari peringkat keempat menjadi kelima.

Inggris, yang saat ini merupakan ekonomi terbesar kelima menurut ukuran CEBR, akan turun ke posisi keenam mulai tahun 2024.

CEBR juga mengatakan bahwa dampak pandemi pada ekonomi global kemungkinan akan muncul dalam inflasi yang lebih tinggi, bukan pertumbuhan yang lebih lambat.

“Kami melihat siklus ekonomi dengan kenaikan suku bunga pada pertengahan 2020-an,” katanya, menimbulkan tantangan bagi pemerintah yang telah meminjam secara besar-besaran untuk mendanai tanggapan mereka terhadap krisis Covid-19.