Adhie Massardi: Sepanjang Tidak Independen
Indonesia Akan Susah Netral Dalam Politik Internasional

Jumat, 23 Oktober 2020 - 05:46:07 WIB


Wartariau.com Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto memenuhi undangan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark T. Esper, ke Pentagon.


Kedua menteri itu membahas banyak hal, salah satunya kerjasama pertahanan.




Pasca pertemuan itu, publik beranggapan Prabowo tengah dirayu Amerika Serikat agar Indonesia menjadi sekutunya dalam melawan China.


Pasalnya, Indonesia juga memiliki konflik perbatasan di Natuna Utara dengan China hingga saat ini.


Namun, sebagian kalangan menilai Indonesia tidak akan mungkin berpengaruh dengan rayuan AS maupun China. Hal ini sejalan dengan sistem politik internasional bebas dan aktif sehingga dapat dikatakan Indonesia merupakan negara netral dengan negara lain.


Menyikapi hal tersebut, mantan jurubicara Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid, Adhie M. Massardi menyampaikan jika Indonesia tidak memiliki independensi maka akan sulit untuk bisa netral dengan negara lain.


“Menurut saya sih netral itu kan perlu integritas, perlu independensi. Sepanjang kita tidak independen, itu akan susah netral,” kata Adhie dalam acara diskusi daring yang digelar Kantor Berita Politik RMOL dengan tema 'Pulang Dari Amerika, Prabowo Bawa Apa?' Kamis (22/10).


Dia mencontohkan, model politik luar negeri seperti kedekatan dengan satu kawan tidak bisa sepenuhnya bisa netral meski kawannya itu memiliki musuh yang sama dengannya.


“Kayak saya, berhadapan dengan Cak Ulung apakah saya bisa netral sama lawannya Cak Ulung, saya nggak, karena punya hubungan batin yang kuat. Pasti ada sekurang-kurangnya ada keberpihakan dikit lah,” katanya.


Adhie mengatakan untuk mengetahui di mana posisi Indonesia dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan China dapat dilihat dari perkembangan geopolitik internasional.


“Jadi dalam situasi ini tergantung nanti permainan politik perkembangan global ini di geopolitiknya. Kalau misalnya, China makin menguat pasti kita pada akhirnya ikut ke China," jelasnya.


"Tetapi, kalau Amerika makin menguat pasti kita akan ditarik lebih condong ke Amerika itu situasi politik, di pergaulan internasional itu suatu hal yang biasa,” tandasnya.



Berita Terkait :