JK Ingatkan Potensi Chaos
JK Ingatkan Potensi Chaos seperti 1998 akibat Krisis pada Puncak Corona

Kamis, 23 April 2020 - 12:52:27 WIB


Waryariau.com - Mantan Wapres ke 8 dan 10, Jusuf Kalla mengingatkan potensi penjarahan seperti 1998 lalu akibat krisis pada puncak penyebaran Covid-19. Potensi itu rawan terjadi akibat kelaparan, kemiskinan, dan krisis sebagai dampak dari Covid-19.

 

“Bisa saja akan timbul masalah keamanan. Kalau tidak makan, ya bisa terjadi berbagai macam-macam seperti tahun 1998. Ketika masyarakat tidak bisa makan, maka terjadi penjarahan atau apa pun di banyak tempat,” kata JK dalam rapat virtual bersama pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabu (22/4).


Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini mendorong peran lembaga agama agar potensi dan kerawanan tersebut tidak menjadi kenyataan. Salah satu caranya, lembaga-lembaga amil zakat, infaq, maupun shadaqah (ZIS) harus bahu membahu membantu sesama muslim. Jika tidak, lanjut JK, bisa saja timbul masalah keamanan seperti penjarahan di banyak tempat.


Menurut dia, pada puncak Covid-19, akibat yang ditimbulkan juga akan mencapai puncak. Bukan hanya dari sisi kesehatan dengan berjatuhannya korban. Namun juga dari sisi ekonomi akan sangat terasa.


“Ini bulan Mei banyak yang memperkirakan puncaknya, berarti puncaknya PHK, kemiskinan, dan kekurangan makanan, maka bagaimana kita bersama-sama mengektifkan ziswaf bersama-sama kepada yang tidak mampu minimal melalui masjid,” katanya.


Mengenai masyarakat yang ingin mudik, JK menyampaikan bahwa mudik bukan menjadi hal penting sekarang ini. Menurut dia, mudik akan sia-sia belaka karena setiap daerah sudah serentak menerapkan PSBB atau minimal mengkarantina warga yang berasal dari kota-kota besar.


“Tidak ada gunanya mudik sekarang, mau dilarang atau tidak, karena semua daerah sudah memberikan aturan kalau datang dari kota besar. Jadi buat apa mudik? Keluar dari situ (tempat karantina) balik lagi (ke kota),” katanya.


Langkah tidak mudik itu, menurut JK, adalah cara mengurangi sebab-sebab penyebaran Covid-19. Menurut dia, kasus Covid-19 ini lebih parah dibandingkan dengan kejadian bencana alam sekelas tsunami sekalipun.


Bencana alam separah apa pun, tutur JK, biasanya akan ditangani pada bagian akibatnya, pada para korban yang berjatuhan. Namun Covid-19 ini bukan hanya akibat yang harus ditangani, namun juga sebab-sebab yang terus muncul.


“Sekarang ini, sebab dan akibatnya harus diselesaikan bersama, harus ada prioritas bersama-sama kita selesaikan,” ujar JK.


Menlu Retno Ungkap AS Komitmen Beri Indonesia Rp 47 Miliar Untuk Tangani Pandemik Covid-19



Berita Terkait :