Takut Utang Membengkak,
Takut Utang Membengkak, Mahathir Nego Ulang Proyek OBOR China

Senin, 28 Mei 2018 - 05:17:31 WIB


Wartariau.com . Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dalam janji kampanyenya selalu menyuarakan untuk mengurangi utang dalam negeri yang kian membengkak.

Beredar Petisi Online, Mahathir Diusulkan Terima Nobel Perdamaian
Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia
Meski Minyak Dunia Melambung, Harga BBM Di Malaysia Tidak Naik
Atasa alasan itu, dia tengah berupaya membatalkan proyek infrastruktur besar dari China, yakni pembangunan rel kereta proyek One Belt One Road (OBOR).

Kata Mahathir, pembatalan proyek rel kereta East Coast Rail Link (ECRL) senilai 55 miliar ringgit Malaysia itu bisa mengurangi total utang hingga 200 miliar ringgit Malaysia.

Sedianya, Malaysia akan mendapat pinjaman dana besar dari China Exim Bank dalam proyek yang membentang 688 kilometer, yang menghubungkan Laut China Selatan dan perbatasan Thailand di Selatan. Proyek ini bahkan digadang akan menjadi rute kapal paling strategis di Selat Malaka.

"Kami akan menegosiasikan ulang. Kesepakatan ini sangat merusak perekonomian kami," tegas Mahathir sebagaimana dikutip Reuters (Minggu, 27/5).

Pria berusia 92 tahun itu menilai bahwa proyek yang diteken Najib Razak itu tidak akan membawa keuntungan spesifik bagi negerinya. Bahkan, kata dia, akan membuat utang Malaysia yang kini mencapai 1 triliun ringgit Malaysia atau setara 80 persen GDP semakin membengkak.

"ECRL, bukan sesuatu yang mampu kami bayar dan tidak akan memberikan keuntungan bagi kami," tegasnya.

Di Indonesia sendiri, pemerintah pernah menawarkan tiga proyek infrastuktur di tiga provinsi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OBOR Mei tahun lalu.

Ketiga proyek itu adalah pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Medan hingga Sibolga, di Sumatera Utara.

Kedua, pembangunan proyek infrastruktur energi dan pengembangan pembangkit listrik di Kalimantan Utara. Terakhir adalah proyek peningkatan infrastruktur Bitung-Manado-Gorontalo, sepertijalur kereta api, pelabuhan, dan bandara di Sulawesi Utara.


Berita Terkait :