Terancam Pembalakan Liar,
Terus Terancam Pembalakan Liar, Pariwisata Diharapkan jadi Penyelamat Hutan Rimbang Baling

Sabtu, 05 Mei 2018 - 11:58:26 WIB


Wartariau.com PEKANBARU - Pengembangan pariwisata yang dilakukan Kelompok Kerja Wisata Batu Bolah kini menjadi harapan untuk menyelamatkan hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling di Kabupaten Kampar, Riau, yang terancam aksi pembalakan liar.

"Hutan Rimbang Baling sekarang terancam pembalakan liar. Kita tidak bisa menyalahkan warga, tapi salahkan tauke (pemodal) yang membeli kayu-kayunya," kata Kurniawan dari Pokja Wisata Batu Bolah, di Pekanbaru, Kamis.

Pokja Wisata Batu Bolah berisikan sekelompok warga dari sebuah desa atau yang disebut warga setempat kekhalifahan, Batu Songgan. Desa itu merupakan permukiman tua yang sudah ada sebelum kawasan itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling. Populasi Desa Batu Songgan mencapai sekitar 105 kepala keluarga dan akses satu-satunya menuju tempat itu adalah melalui Sungai Subayang.

Kurniawan menjelaskan, dahulu masyarakat setempat berprofesi sebagai petani ladang berpindah dan karet. Seiring dengan dilarangnya ladang berpindah dan harga karet anjlok, banyak warga setempat tergiur menjadi pembalak liar.

"Warga kalau diingatkan merasa tidak ada pilihan karena harga karet turun terus. Kita tidak bisa langsung menyalahkan warga begitu saja," ujarnya.

Ia menilai dalam dua tahun terakhir kegiatan pariwisata terus didorong dan membuat gelisah para "tauke" kayu. Hal itu memberi harapan bagi warga untuk meninggalkan kegiatan pembalakan liar dan fokus memajukan potensi wisata Bukit Rimbang Baling.

"Semakin banyak wisatawan datang, 'tauke' jadi resah dan merasa diawasi," ujarnya.

Bukit Rimbang Baling memiliki potensi wisata yang tinggi terutama untuk minat khusus. Tempat ini tidak begitu jauh dari Kota Pekanbaru dan punya pesona alam yang indah dengan hutan dan sungainya yang indah.

Pokja Wisata Batu Bolah membantu pendirian rumah pohon yang bisa digunakan wisatawan untuk menikmati keindahan alam Bukit Rimbang Baling dari ketinggian. Selain itu, kehidupan dan tradisi masyarakat setempat juga menarik wisatawan seperti membuat kerajinan tangan, membuat perahu, hingga piknik di pulau yang ada di tengah sungai.

"Masyarakat juga punya tradisi lubuk larangan, yaitu sebuah bagian sungai yang dilarang memancing ikan, dan hanya dibuka sekali dalam setahun," katanya. [ANTARA]



Berita Terkait :