Polisi Tingkatkan Pengamanan Bentrok Berbau SARA Nyaris Pecah di Dumai
Sabtu, 17 September 2011 - 12:09:35 WIB DUMAI - Bentrok fisik yang berbau SARA nyaris pecah di Kota Dumai, Riau, Jumat (16/9) malam. Beruntung konflik tidak meluas dan saat ini terus dilakukan mediasi untuk mencegah konflik meluas.
Hampir pecahnya perang antar suku yang terjadi di kota tersebut tepatnya di Jalan Teduh, Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat, berawal dari keributan seorang warga asal Nias membawa dua karung bawang merah hasil curian.
"Waktu itu, maling tersebut dibawa ke dermaga untuk menanyakan dan mengembalikan barang itu. Tiba-tiba saja datang teman-temannya," ujar seorang buruh bongkar muat yang tidak mau menyebutkan namanya kepada.
Melihat teman-teman sekampungnya datang, maling ini mulai berkilah. Ia membantah mencuri dua karung bawang merah. Ia berkilah membawa kayu broti dalam karung. Bahkan, kepada teman-temannya, maling ini mengadu kalau telah dianiaya seorang mandor pelabuhan.
Tanpa banyak tanya, teman-teman maling tersebut langsung mencari mandor yang dituding menganiaya. Alhasil mandor langsung melarikan diri karena dicari puluhan orang. Terjadi kejar-kejaran.
Si Mandor lari ke hutan bakau berlumpur, hingga kemudian diselamatkan seorang warga dengan dilarikan menggunakan sepeda motor.
Masalah tak selesai sampai di situ. Si Mandor tak terima diperlakukan warga pendatang seperti itu lantas mengumpulkan kawan balik menyerang. Sempat terjadi bentrok antarkedua kelompok massa.
Setelah terjadinya bentrokkan tersebut, pihak kepolisian dan pihak Danramil langsung mengerahkan anggotannya, sehingga bentrokkan besar dapat dihentikan sebelum meluas. Menurut informasi ada dua orang yang dianggap menjadi provokator diamankan polisi.
Setelah itu diadakan mediasi dan membuat perjanjian antar pemuka suku bermasalah dengan pemuka masyarakat setempat.
Situasi perdamaian ditandai dengan bersalam-salaman kedua pihak di kantor Kelurahan Pangkalan Sesai yang dihadiri pemuka masyarakat setempat serta disaksiakan oleh pihak kepolisian dan Danramil.
Namun situasi kembali memanas, saat massa yang sudah berdamai hendak bubar menjelang tengah malam, mendadak muncul segerombolan massa bersepeda motor mendatangi Kantor Lurah Pangkalan Sesai, tempat dilangsungkan mufakat damai.
Mereka datang dan langsung beteriak-teriak. "Usir dia dari kampong kita! Kita telah dijajahnya!" Kantor lurah yang juga dijaga oleh anggota Kepolisan Resort Dumai menjadi ramai karena kedatangan massa yang sangat kecewa atas perilaku suku pendatang tersebut.
Menurutnya mereka telah sering membuat onar di daerah Jalan Teduh sekitarnya. "Mereka harus diusir dari kampong kita. Mereka telah sering membuat onar," tuding massa.
Menurut penuturan seorang dari kelompok massa yang baru datang, kejadian ini merupakan yang kedua kalinya yang dilakukan oleh pihak pendatang, karena sebelumnya pihak pendatang tidak menghargai masyarakat setempat yang ingin melakukan ibadah di bulan Ramadhan.
"Anak-anak kami takut untuk pergi tadarus, karena mereka kalau sudah berkumpul mereka minum-minuman dan juga melepaskan mercun hingga mengganggu kami. Tidak hanya itu, ketika malam 27 Ramadhan, mereka juga mengganggu anak gadis kami. Saat ditegur, malah melawan.”
Masih menurut orang tersebut, para pendatang asal Nias tidak mengindahkan peraturan setempat, karena keberadaannya tak pernah lapor pada RT setempat. "Mereka satu rumah mau berisikan 20 orang. Tidak satupun dari mereka yang mempunyai identitas. Kalau terjadi masalah siapa yang kita cari?" tukasnya.
Berdasarkan hasil rapat dan mediasi yang dilakukan di kantor Lurah Pangkalan Sesai tersebut, pihak pendatang berjanji tidak akan membuat onar di Kota Dumai khususnya di daerah tersebut.
Selanjutnya, pihak Kelurahan akan bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk melakukan pendataan terhadap mereka. Bagi yang terbukti tak memiliki kartu indentitas, harus pulang ke daerah mereka.
"Kami tidak ingin hari Senin mereka dirazia, kami ingin malam ini diadakan razia, kalau tidak sanggup kami akan melakukannya sendiri," ujar salah seorang masa yang ngotot.
Sekitar pukul 22.30 wib masa meninggalkan kantor lurah dan kembali berkumpul di jalan Teduh, lokasi awal terjadinya konflik. Mereka sempat memaksa hendak melakukan razia, namun herhasil diredam aparat. (riauterkini.com)