Dewan Dukung Pembentukan Tim Penyelamatan Riau Air | KPK Periksa Politisi PKB asal Riau Delapan Jam | JE Sudah Keliling Sejumlah Daerah di Riau | Kursi M Dunir Masih Aman di DPRD Riau | Mendagri Sudah Tegur Bupati Kuansing | Perkantoran Pulau Padang Mulai Dikepung Massa
Senin 21 Mei 2012

Masjid Raya Pekanbaru
Dulu, Wisatawan Malaysia Buru Air Sumur Tua untuk Obat


Sabtu, 13 Agustus 2011 - 04:31:05 WIB
Masjid Raya Pekanbaru kini sudah mengalami berbagai renovasi. Kendati demikian, nilai-nilai sejarahnya tetap masih ada yang terjaga. Bangunan bersejarah ini sudah berumur lebih dari 100 tahun. Simak tulisan singkatnya.

Masjid Raya Senapelan atau sekarang lebih dikenal Masjid Raya Pekanbaru pertama kali dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1780 M). Ia dikenal sebagai Marhum Bukit, Raja ke-4 Kerajaan Siak Indrapura, sekitar tahun 1762 M.

Kemudian pembangunannya diteruskan oleh Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Raja ke-5.

Sekitar tahun 1775 Marhum, Bukit memindahkan ibukota kerajaan dari Mempura Siak ke Sanapelan. Beliau wafat tahun 1780. Senapelan adalah lokasi Masjid Raya. Hal ini merupakan cikal bakal pertama berdirinya kota Pekanbaru sejak berdirinya Masjid Raya.

Sebagai bukti sejarah, terdapat bukti berupa secarik kertas bertuliskan: Sesuai keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor. KM.13/13.007/MKP/2004, tentang penetapan Istana Siak dan..(sejumlah situs lainnya) termasuk Masjid Raya Pekanbaru, yang berlokasi di Pekanbaru merupakan benda cagar budaya, situs, atau kawasan yang dilindungi UU RI No.5/2004.

Dalam perjalanannya, masjid ini sudah mengalami perombakan. Jadi Jangan terheran-heran jika Anda pernah datang sebelumnya karena mesjid raya asli tidak akan ditemukan lagi. Kini mesjid dibangun sekitar 100 tahun lalu itu sudah berubah bentuk menjadi mesjid modern.

Masjid Raya Pekanbaru sudah dibangun dua lantai, bahkan sumur tua di samping mesjid sudah tidak ada lagi. Padahal sumur tua itu sangat dikenal sampai ke Malaysia-Singapura karena dipercaya Bertuah.

Biasanya Wisatawan Malaysia, Singapura menjadikan air sumur tersebut sebagai oleh-oleh penyembuh penyakit.

Hal-ini tentu sangat disesalkan tokoh masyarakat. Sebut saja Annas Aismana, salah seorang tokoh pemuda. Ia tidak setuju dengan penghilangan wajah asli Mesjid Raya Pekanbaru.

"Program revitalisasi yang dilakukan terhadap Mesjid Raya itu telah menghilangkan salah satu bukti sejarah Kerajaan melayu di Riau. Malah telah menjadi cagar budaya nasional, bahkan dikenal dunia. Seharusnya keaslian mesjid ini terus dijaga," ujarya kepada media.

Perombakan ini tentu mengingatkan kita pada desain ulang masjid tua Agung An-Nur Pekanbaru.

Coba bedakan Masjid Agung An-Nur tempo dulu dengan Agung An-Nur sekarang. Namun apa daya pembangunan sedang berjalan. Mesjid dibangun pada abad 18 disulap menjadi masjid modren. (www.pekanbaruriau.com)




Berita Terkait :
(10) Dibaca - (0) Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)