Minggu, 20 Februari 2011 - 21:42:11 WIB PASIRPANGARAIAN- Masyarakat Kabupaten Rokan Hulu, khusus yang bermukim di tepian Sungai Batang Lubuh, sudah biasa merasakan banjir. Namun dibalik hikmah usai banjir, ada berkah tersendiri buat mereka, salahsatunya panen ikan Gamak di Sungai Batang Lubuh.
Cerita Suherman, warga Dusun Nogori, Desa Babussalam, Kecamatan Rambah. Ikan Gamak, biasa mudik dari hilir sungai ke hulu sungai usai banjir. Saat musim banjir, telur ikan hanyut terbawa arus sungai, dan usai banjir, ikan Gamak yang konon ceritanya memiliki insting, bahwa induknya berada di hulu sungai, akan menuju ke hulu sungai secara bergerombol di tengah Sungai Batang Lubuh.
Beda lagi dengan cerita Ihwan Daulay, warga Desa Menaming, Kecamatan Rambah. Katanya, ikan Gamak biasa disebut masyarakat ikan Motan atau dalam bahasa Suku Mandailing Tapanuli Selatan disebut ikan Ringo.
Ikan Gamak biasa mudik, bersamaan dengan usai panen padi. Dalam setahun, bisa satu hingga dua kali musim ikan Gamak di kawasan negeri seribu suluk. Saat musim ikan Gamak, masyarakat berbondong-bondong menuju Sungai Batang Lubuh, membawa peralatan menangkap ikan, seperti jaring dan jala.
Per harinya, masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil tangkapan ikan ini di sungai. Per harinya ia bisa mendapatkan ikan Gamak sebanyak 100 kaleng (15 kilogram per kaleng), atau sekitar 1,5 ton per hari. Musim ini, menurut Ihwan, berlangsung selama seminggu di desanya, Menaming. Namun ikan hanya selama tiga hari terlihat banyak di tengah sungai.
Selain menggunakan jaring, para penangkap ikan biasa menggunakan salir yang dipasang tali sepanjang 15 meter. Salir ini dipasang masyarakat pas dibendungan irigasi Desa Menaming.
Pemandangan mengagumkan, ribuan ikan Gamak terlihat melompat ke salir para penangkap ikan. Kata masyarakat, ikan berusaha naik ke bendungan untuk mencari induknya, sehingga ia melompat. Namun derasnya arus bendungan irigasi tersebut, usaha ikan terlihat sia-sia dan harus berakhir di dalam Salir para penangkap ikan.
Selain dikonsumsi sendiri, ikan Gamak hasil tangkapan dijual warga ke pasar, dan bisa menambah penghasilan keluarga selama musimnya. Warga menjual ikan di pasar, dengan harga Rp10 ribu per kilogramnya.
Biasanya, ikan Gamak banyak terlihat pada pukul 6 pagi dan pukul 6 sore. Pada siang hari, ikan tidak terlihat, sebab mereka mencari tempat teduh sementara waktu, dan ketika matahari mulai terbenam, ikan akan keluar kembali secara bergerombol di tengah sungai menuju hulu sungai.
Ungkap Kades Menaming, Firdaus Daulay, yang merupakan putra kelahiran sana. Masyarakat Dusun Tanjung Godang, Huta Baru, Kampung Pasar, terutama warga Dusun Kampung Bukit, biasa panen ikan Gamak saat musimnya. Menurutnya, ikan Gamak naik ke hulu sungai bersamaan dengan musim panen padi. Selama setahun, musim ikan Gamak mudik bisa dua kali terjadi.
Pada tahun 70-80an lampau, ikan Gamak lebih banyak lagi. Per harinya, masyarakat disana bisa mendapatkan hingga 3 ton per hari. Namun, karena perkembangan zaman, ada sejumlah oknum yang menangkap ikan dengan cara meracun, akibatnya habitat ikan di sungai, seperti keberadaan Ikan Gamak pun menurun.
Kejadian menangkap ikan dengan cara meracun terjadi pada tahun 2003-2005 lalu, namun karena ada larangan keras dari aparat hukum, para oknum peracun ikan tidak berani melakukannya lagi.
Ia berharap, kejadian serupa tidak terjadi pada zaman sekarang. Sebagai putra Rokan Hulu, ia ikut menjaga habitat Sungai Batang Lubuh dari ancaman oknum yang tidak bertanggungjawab. Sehingga keberadaan Sungai Batang Lubuh tidak lekang dimakan waktu, apalagi sungai ini merupakan saksi bisu terbentuknya Kabupaten Rokan Hulu, sejak tahun 1999 lalu. (riauterkini.com)