Kamis 23 Februari 2012

Tokoh Melayu Tenas Effendy
Waktu Kecil Ikut Ayah Berladang Padi


Sabtu, 14 Januari 2012 - 17:49:22 WIB
Tengku Nasaruddin Said Effendy atau yang lebih dikenal dengan nama Tenas Effendy, dilahirkan pada 9 November 1936 di Dusun Tanjung Malim, Desa Kuala Panduk, Pelalawan. Tengku Nasaruddin Said Effendy adalah nama pemberian dari ayahnya, Tengku Said Umar Muhammad.

Sementara ibunya, Tengku Sarifah Azamah juga memberi Tenas dengan nama Tengku Nasrun Said Effendy.

Ayahnya adalah sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim, Sultan Pelalawan ke-8 waktu itu. Ayahnya selalu menulis mengenai semua silsilah Kerajaan Pelalawan, adat-istiadat, dan peristiwa penting lainnya dalam sebuah buku yang dinamakan Buku Gajah.

Setelah Sultan Said Hasyim mangkat pada tahun 1930, T. Said Umar Muhammad dan keluarga pindah dari Pelalawan ke Kuala Panduk dan menjalani aktivitas seperti masyarakat lainnya. Di Kuala Panduk T. Said Umar Muhammad diangkat sebagai Penghulu sekaligus sebagai guru agama yang pertama dan guru sekolah desa.

Masa kecil T. Nasaruddin Effendy dihabiskan dengan mengikuti ayahnya berladang padi, hingga T. Nasaruddin Effendy sejak kecil paham betul kegiatan berladang yang dilakukan ayahnya dan masyarakat desanya sehari-hari.

Selain itu, beragam peristiwa dan aktivitas kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya dapat disaksikan langsung oleh Tenas, seperti upacara penabalan Sultan Said Harun, upacara menuba ikan yaitu sebuah ritual yang juga sarat dengan adat, upacara mengambil madu yang sarat dengan magis dan kental dengan ritual kebudayaan asli, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.

Kebiasaan dalam mendengar, melihat dan mengamati berbagai khasanah budaya ini secara berangsur-angsur membuat Tenas mampu menyerap berbagai unsur budaya tersebut dan terpatri sangat mendalam dalam kehidupannya. Kendati belum memahami benar, namun kebiasaan masyarakat dengan beragam aktivitas kebudayaannya itu telah membentuk pandangan Tenas mengenai kebudayaan Melayu yang Islami.

Setelah berumur 6 tahun, Tenas mulai masuk Sekolah Agama dan Sekolah Rakyat yang ada di kampungnya. Di Sekolah Agama Tenas mendapat pendidikan dari ayahnya sebagai guru agama, sedangkan di Sekolah Rakyat Tenas mendapat pelajaran dari gurunya (Alm) T. Said Hamzah. Jika sekolah agama dilakukannya di masjid bersama teman-temannya, sekolah umum dilakukannya di sekolah yang sangat sederhana, dengan duduk beralaskan tikar.

Alat tulis yang digunakan pun hanya dari batu yang disebut dengan papan batu. Kegiatan belajar tidak hanya dilakukan di sekolah maupun di masjid, tetapi di ladang, di pokok-pokok getah dan di tepi sungai.

Pada zaman pendudukan Jepang, tentara Jepang yang berada di Pelalawan selalu datang ke kampung-kampung, tak terkecuali Kuala Panduk untuk mencabut padi-padi yang ditanam masyarakat. Kondisi ini jelas menyebabkan hasil pertanian menurun drastis, persediaan pangan yang biasanya disimpan di pondok-pondok ladang dirampas oleh tentara Jepang dan kaki tangannya.

Untuk mengatasi penderitaan masyarakat karena perlakuan tentara Jepang dan kaki tangannya, pihak istana mengeluarkan seruan untuk menyimpan padi-padi ke tengah hutan, agar tidak dirampas oleh Jepang. Sebagai penghulu waktu itu, T. Said Umar Muhammad tidak henti-hentinya menghimbau warga kampung untuk melaksanakan seruan istana, yaitu tidak menyerahkan hasil pertaniannya kepada Jepang.

Karena aktivitasnya ini, sering kali Tengku Said Umar Muhammad harus mendapat ancaman pihak Jepang, dan beberapa kali akan ditangkap, namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Pada akhir revolusi kemerdekaan pada tahun 1949, keluarga Tenas pindah ke Pelalawan.

Tahun 1950, Tenas menamatkan sekolah di Sekolah Rakyat di Pelalawan. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru B (SG B) di Bengkalis. Tidak banyak kegiatan yang dilakukannya selama menuntut ilmu di Bengkalis.

Hanya sekali-sekali Tenas mencoba menulis kemudian dikirim ke berbagai akbar yang ada di Medan. Selain itu Tenas giat mengikuti latihan pandu Hisbulwathan yang dipimpin oleh Dt. Adham. Setelah 3 tahun menempuh pendidikan di Bengkalis, Tenas melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru A di Padang.

Selama mengikuti pendidikan di Padang, banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh Tenas. Dasar menulis yang diperolehnya selama pendidikan di Bengkalis diteruskannya selama di Padang. Dengan kemampuan yang dimilikinya Tenas sering mengikuti berbagai acara kesenian berupa pembacaan puisi dan sering mengisi acara karya budaya yang disiarkan oleh RRI Padang.

Aktivitas organisasi pun tak luput dari perhatiannya di samping terus menulis dan berkesenian. Sebuah organisasi bernama SEMI (Seniman Muda Indonesia) adalah organisasi pertama yang dimasukinya, dan ia diberi kepercayaan sebagai salah seorang Ketua Cabang Padang bersama SB. Jass, di organisasi yang berpusat di Bukit Tinggi ini. Bersama teman-temannya di antaranya Salius (salah seorang Pendiri Harian Singgalang) memprakarsai berdirinya Himpunan Seniman Muda Padang.

Melalui organisasi ini berbagai aktivitas dilakukan mulai dari pementasan drama, teater, seni suara, musik, puisi dan menulis yang tidak pernah ditinggalkannya. Pementasan drama yang berjudul “Titik-titik Hitam” karya Nasyah Jamin adalah salah satu kegiatan yang masih dapat diingat olehnya, di samping drama lain buah karyanya sediri. Setelah 3 tahun di Padang, Tenas menyelesaikan pendidikannya yaitu tahun 1957.

Tahun 1958 Tenas pindah ke Riau (Pekanbaru), aktivitas menulisnya terus dilakukan, begitu juga kegiatan berkesenian. Bersama Muslim Saleh, Tenas mengadakan pameran lukisan di Rumbai tahun 1959. Ini merupakan kegiatan pameran pertama yang dilaksanakan di Riau waktu itu.

Tahun 1960 Tenas sempat mengajar di salah satu sekolah di Siak, namun panggilan dan jiwa seni mengantarkannya kembali ke Pekanbaru untuk terus melakukan berbagai aktivitas berkesenian dan terus aktif menulis karya-karya sastra.

Selain aktivitas seni, penerbitan buku-buku tentang kebudayaan Riau juga mulai dilakukan antara tahun 1968-1970. Tenas sendiri menulis buku 'Lancang Kuning, Kubu Terakhir' (novel). Sedangkan Umar Ahmad Tambusai menulis 'Tuanku Tambusai, Pancang Jermal', juga Wan Saleh Tamin menulis buku 'Lintasan Sejarah Rokan'. (sungaikuantan.com)